LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK II

Nama : Fahmi Nur Rahmansyah
Nim : 1011E1044
SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH BANDUNG
JLn.Padasuka atas no.233
Ø HARI / TANGGAL PRAKTIKUM
Sabtu, 24 Desember 2011
Ø JUDUL PRAKTIKUM
Titrasi Konduktometri
Ø TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk mengetahui TE dan kadar dari sampel NiSO4.6H2O
Ø PRINSIP PRAKTIKUM
Didasarkan pada teknik analisih kuantitatif yg dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yg tg sudah diketahui konsentrasinya secara tepat.
Ø DASAR TEORI
Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini banyak orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri.
Titik equivalent dapat ditentukan dengan berbagai macam cara, cara yang umum adalah dengan menggunakan indicator. Indikator akan berubah warna dengan adanya penambahan sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita dapat langsung menghentikan proses titrasi. Tetapi selain itu juga dapat menggunakan alat yang disebut dengan konduktometer. Tidak semua zat bisa ditentukan dengan cara titrasi akan tetapi kita harus memperhatikan syarat-syarat titrasi untuk mengetahui zat apa saja yang dapat ditentukan dengan metode titrasi untuk berbagai jenis titrasi yang ada. Titrasi konduktometri merupakan salah satu dari sekian banyak macam – macam titrasi. Didalam titrasi konduktometri ini tidak terlalu berbeda jauh dari titrasi – titrasi yang lainya, yang membedakan biasanya hanya terdapat bagaimana cara untuk mengetahui titik ekivalen dari larutan itu. Kalau kita menggunakan titrasi volumetri yang biasa kita praktikan sebelumnya titik ekivalen diketahui ketika terjadi perubahan warna, zat itu akan mengalami peruban warna bila zat itu dalam keadaan setimbang. Untuk mempermudah kita untuk melihat zat itu sudah mencapai ekivalen maka digunakan indikator. Titik ekivalen dapat kita ketahui dari daya hantar dari larutan yang kita ukur, jika daya hantar sudah konstan berarti titrasi sudah mencapai ekivalen. Titrasi ini juga tidak perlu menggunakan indikator, untuk lebih jelasnya akan dijelaskan dalam bab selanjutnya.
konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi bukanlah prosedur titrasi. Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus tetap. Hantaran sebanding dengan konsentrasi larutan pada temperatur tetap, tetapi pengenceran akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear lagi dengan konsentrasi.
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya bergantung pada ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat dan oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah.
Untuk mengukur konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah sel, yang tetapan selnya telah ditetapkan dengan kalibrasi dengan suatu larutan yang konduktivitasnya diketahui dengan tepat, misal, suatu larutan kalium klorida standar. Sel ditaruh dalam satu lengan dari rangkaian jembatan Wheatstone dan resistansnya diukur.
Bila konsentrasi dinyatakan dalam normalitas, maka harus dikalikan faktor 1000. nilai d/a =S merupakan faktor geometri selnya dan nilainya konstan untuk suatu sel tertentu sehingga disebut tetapan sel.
Ø ALAT dan BAHAN
1. Buret 6. Konduktometer dan stiller
2. Statif dan klem 7. NiSO4.6H2O
3. Gelas kimia 8. Larutan EDTA
4. Labu ukur 100 mL 9. Aquades
5. Pipet volum 25 mL 10. Botol semprot
Ø CARA KERJA
1. Timbang 0,25 gram NiSO4.6H2O, larut kan dalam labu ukur 100 mL
2. Homogenkan dan pipet 25 mL kemudian masukan kedalam gelas kimia 500 mL
3. Tambahkan air 200mL kedalamnya
4. Titrasi oleh EDTA 0,02 m, baca DHL setiap penambahan 1 mL EDTA sampai 25 mL
5. Buat grafik DHL, tentukan TE dan kadar dari NiSO4.6H2O
Ø HASIL PENAMATAN
Percobaan I
| volume | potensial |
| 1 ml | 0,43 |
| 2 ml | 0,46 |
| 3 ml | 0,51 |
| 4 ml | 0,55 |
| 5 ml | 0,58 |
| 6 ml | 0,63 |
| 7 ml | 0,67 |
| 8 ml | 0,7 |
| 9 ml | 0,73 |
| 10 ml | 0,76 |
| 11 ml | 0,8 |
| 12 ml | 0,83 |
| 13 ml | 0,87 |
| 14 ml | 0,89 |
| 15 ml | 0,9 |
| 16 ml | 0,89 |
| 17 ml | 0,89 |
| 18 ml | 0,89 |
| 19 ml | 0,88 |
| 20 ml | 0,88 |
| 21 ml | 0,88 |
| 22 ml | 0,88 |
| 23 ml | 0,88 |
| 24 ml | 0,88 |
| 25 ml | 0,88 |
Grafik 1

Perhitungan
VP mg sampel
25 253
= 4 x 0,05606 x 100%
= 2,24 %
Data 2
| volume | konduktifitas |
| 0 | 0,44 |
| 1 | 0,44 |
| 2 | 0,46 |
| 3 | 0,51 |
| 4 | 0,55 |
| 5 | 0,58 |
| 6 | 0,62 |
| 7 | 0,66 |
| 8 | 0,69 |
| 9 | 0,73 |
| 10 | 0,77 |
| 11 | 0,80 |
| 12 | 0,83 |
| 13 | 0,87 |
| 14 | 0,87 |
| 15 | 0,87 |
| 16 | 0,86 |
| 17 | 0,86 |
| 18 | 0,86 |
| 19 | 0,86 |
| 20 | 0,87 |
| 21 | 0,87 |
| 22 | 0,87 |
| 23 | 0,87 |
| 24 | 0,88 |
| 25 | 0,88 |
Grafik 2

Perhitungan
VP mg sampel
25 253
= 4 x 0,0606 x 100%
= 24,24 %
Kesimpulan
Dari hasil praktikum didapat TE dari grafik 1 nilainya 11,90 dan kadar Ni(II) nya 2,22% , sedangkan grafik 2 nilainya 13,0 dan kadar Ni(II) nya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar